Minggu, 23 Mei 2021

Artikel Reflektif Pemetaan Tujuh Kelompok Aset – Sumber Daya SMPN 1 Cisurupan

 

3.2.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Artikel Reflektif

Pemetaan Tujuh Kelompok Aset – Sumber Daya SMPN 1 Cisurupan

 


SMP Negeri 1 Cisurupan terletak di Jl. Raya Cisurupan No. 154 Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang sudah lama berdiri dan menjadi sekolah induk khususnya di kecamatan Cisurupan untuk jenjang SMP. Salah satu kebanggaan dari sekolah ini adalah motto sekolahnya yaitu, IKHLAS (Inovatif, Komunikatif, Harmonis, Loyal, Agamis, Sportif) yang menjadi semangat kami dalam menjalankan tugas dan aktivitas di sekolah . Pada artikel ini akan dipaparkan 7 aset atau modal yang dimiliki oleh SMP Negeri 1 Cisurupan.

SMPN 1 Cisurupan memiliki sumber daya yang baik dan lengkap, yaitu aset sumber daya manusia (modal manusia) yang terdiri dari kepala sekolah, guru, murid, tenaga kependidikan, penjaga sekolah, dan petugas keamanan (security). Kepala SMPN 1 Cisurupan saat ini adalah Bapak H. Apip, S.Pd., M.Pd yang baru menjabat di SMPN 1 Cisurupan mulai bulan Juli 2020. Guru di SMPN 1 Cisurupan tercatat ada 45 orang dengan kualifikasi pendidikan S1 dan S2 yang terdiri dari 25 orang PNS, 4 orang PPPK, 16 orang Non PNS, Tenaga Kependidikan berjumlah 7 orang dengan jumlah yang berstatus PNS 2 orang dan Non PNS 5 Orang. Kemudian, siswa SMPN 1 Cisurupan berjumlah sekitar 835 yang dibagi menjadi 9 rombel untuk setiap tingkatnya. Selanjutnya, terdapat 2 orang penjaga sekolah dan 1 orang security. Dilihat dari jumlah dan tuganya, SMPN 1 cisurupan sudah memiliki sumber daya manusia yang lengkap.

Ditinjau dari modal sosial, SMPN 1 Cisurupan memiliki asosiasi atau komunitas baik yang dibentuk di lingkungan sekolah sendiri atau bergabung dengan asosiasi atau organisasi di luar sekolah. Sebagai contoh adalah adanya peguyuban orang tua yang terbentuk dalam komite sekolah, PGRI tingkat ranting sekolah, dan ada beberapa mata pelajaran yang memiliki MGMP sendiri di sekolah. Kemudian organisasi siswa yaitu OSIS dan organisasi di bawah ekstrakurikuler yaitu PASUS, Pramuka, PMR, Club olah raga atletik, dan Kerohanian. Selanjutnya, dari modal fisik SMPN 1 Cisurupan memiliki bangunan dan infrastruktur yang sudah lengkap. Terdapat 27 ruang kelas yang memadai untuk digunakan kegiatan belajar mengajar, ruang perpustakaan, lab komputer, lab IPA, ruang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang terpisah, ruang piket, masjid, WC, ruang UKS, dan lapangan. Untuk insfrastruktur penunjang kegiatan belajar mengajar tersedia jaringan internet, saluran air yang memadai, jaringan listrik, komputer, alat peraga IPA, buku paket, dan sebagainya.

SMPN 1 Cisurupan sebagai sekolah induk sering menjalin kerjasama dengan  pihak luar seperti mengundang pihak dari puskesmas dan kepolisian untuk mengadakan sosialisasi kepada siswa terkait kesehatan, bahaya narkoba, keamanan dan ketertiban, dan sebagainya seperti pada saat kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Selain itu, SMPN 1 Cisurupan mengadakan kerjasama dengan sebuah TV lokal pada saat pembelajaran jarak jauh dimana guru membuat video pembelajaran dan ditayangkan di TV lokal tersebut pada jadwal yang telah ditentukan.

SMPN 1 Cisurupan yang terletak di pusat kecamatan Cisurupan memiliki modal lingkungan yang baik, yaitu letaknya yang strategis dilalui banyak orang sehingga lokasi sekolah mudah dijangkau. Kemudian, letaknya yang dekat dengan Gunung Papandayan memiliki udara yang sejuk dan bersih, ketersediaan air bersih yang memadai, lahan sekolah yang cukup luas, dan ada lahan kosong di beberapa depan ruang kelas dan kantor yang bisa dimanfaatkan. Selain itu, sekolah ini bersebelahan dengan lapangan alun-alun Cisurupan sehingga ketika ada kegiatan olah raga yang memerlukan lapangan yang luas, siswa bisa melakukan kegiatan olah raga di lapangan alun-alun. Adapun, modal finansial utama yang dimiliki oleh SMPN 1 Cisurupan bersumber dari Dana Operasional Sekolah (BOS).

Hal yang unik dari sekolah ini bisa dirasakan dari kehidupan berbudaya dan beragama di sekolah dan di lingkungan sekitar sekolah. Dengan banyaknya jumlah warga sekolah dimulai dari guru, siswa, pemangku kebijakan, pegawai, dan sebagainya, tentu saja banyak memunculkan perbedaan-perbedaan baik dari karakter, kebiasaan, dan perilaku. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan tersebut membuat keberagaman yang kaya dan menumbuhkan rasa toleransi, saling menghargai dan menghormati diantara warga sekolah. Ada beberapa guru yang datang dari luar daerah Cisurupan dan dari luar Garut, yang tentu memiliki budaya daerah yang berbeda, tetapi kami semua bisa saling menerima dan menyesuaikan diri. Selain itu, kami berusaha untuk selalu menumbuhkan sifat religius, gotong royong, dan taat beribadah sebagai modal agama dan budaya yang kami yakini harus kami jaga.

Dari ketujuh aset atau modal yang dipaparkan di atas, menurut saya aset yang paling dikuasai oleh SMPN 1 Cisurupan adalah memiliki Sumber Daya Manusia yang baik dan sudah sesuai dengan tugas dan fungsinya dan memiliki modal fisik yang memadai, sehingga dapat dikatakan kami memiliki kekuatan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang layak dan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.

 

SMPN 1 Cisurupan masih tetap menjadi sekolah favorit dan diminati oleh masyarakan ditengah banyaknya sekolah-sekolah swasta yang berdiri di sekitar SMPN 1 Cisurupan yang dengan keswastaannya menawarkan berbagai kurikulum khusus yang tidak bisa dilakukan oleh sekolah negeri yang terikat dengan kurikulum nasional. Selain itu, banyak siswa unggulan dari SD yang memilih melanjutkan ke SMP swasta dibandingkan ke SMP Negeri. Akan tetapi, kami bangga dengan siswa-siswa kami yang meskipun bukan siswa non unggulan ketika masuk ke skolah ini, tetapi mereka bisa berprestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah. Misalnya, ada siswa yang meraih juara pada lomba atletik tingkat provinsi, juara lomba desain poster, juara lomba pidato, juara LBB, juara olimpiade IPS, dan prestasi-prestasi lainnya baik di bidang akademik maupun non akademik.

 

Sekolah telah berusaha untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih baik dari orang lain bagi masyarakat khususnya bagi para peserta didik dengan mendorong guru-gurunya untuk mengikuti pengembangan diri seperti melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengikuti seminar, workshop, atau diklat. Kemudian, memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan pembelajaran, menyediakan berbagai ekstrakurikuler untuk pengembangan minat dan bakat siswa, memasukan pembiasaan positif dalam kurikulum sekolah seperti kegiatan literasi, shalat dhuha, kultum setiap hari jum’at, dan sebagainya.

 

Demikian paparan tentang modal atau aset sumber daya yang dimiliki oleh SMPN 1 Cisurupan. Dengan pengelolaan aset sumber daya yang baik dan menerapkan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Thinking)  dalam pengembangan sekolah, kami berharap sekolah kami dapat berkembang menjadi sekolah yang dapat menyediakan layanan pendidikan terbaik bagi masyarakat.


#ProgramPendidikanGuruPenggerak



Rabu, 17 Februari 2021

Koneksi Antar Materi 2.1.a.9 - Pembelajaran Berdiferensiasi Sebagai Upaya Pembelajaran yang Berpihak pada Murid

 

Setiap peserta didik berbeda, mereka memiliki karakteristik, kebutuhan, latar belakang, dan kemampuan yang berbeda-beda. Menyamaratakan proses pembelajaran pada semua peserta didik ibarat memaksakan semua hewan harus bisa terbang atau semua hewan harus pandai berenang, padahal burung terlihat menawan ketika ia sedang berliuk-liuk terbang, ikan terlihat hebat dengan kemampuannya berenang, ayam tidak harus pandai terbang tinggi untuk mencari makan, dan kancil terkenal dengan khasnya sebagai pelari cepat. Maka dalam kegiatan pembelajaran, ternyata memaksakan murid untuk unggul dalam bidang yang bukan ia kuasai, atau tidak menyesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakangnya, hanya akan membuat murid bosan dan menjadi tidak semangat dalam belajar.

 

Pembelajaran berdiferensiasi hadir sebagai usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid (Tomlinson (2000) . Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berorientasi kepada murid dengan memperhatikan keberagaman murid seperti aspek kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Jadi, dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi diharapkan proses pembelajaran dapat diikuti oleh semua anak yang beragam karakter, kebutuhan, latar belakang, dan minatnya.

 

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan membuat pemetaan kebutuhan belajar terlebih dahulu. Guru dapat membuat pemetaan kebutuhan belajar murid dengan tiga cara, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Pertama adalah diferensiasi konten. Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap tingkat kesiapan, minat atau profil belajar murid yang berbeda atau kombinasi dari ketiganya. Kita bisa menggunakan alat  yaitu The Equalizer untuk  mengukur readiness atau kesiapan belajar siswa. Kedua adalah diferensiasi proses. Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa informasi atau materi yang dipelajari. Kita harus memikirkan proses seperti apa yang perlu dipersiapkan untuk proses pembelajaran murid-murid, apakah mereka akan belajar secara mandiri atau berkelompok, bantuan apa yang perlu disiapkan oleh guru dan siapa saja yang memerlukan bantuan. Hal ini harus dipersiapkan sebagai bagian dari skenario pembelajaran. Ketiga adalah diferensiasi Produk. Produk adalah hasil pekerjaan yang harus dibuat oleh murid. Produk harus mencerminkan pemahaman murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kita perlu mempertimbnagkan kebutuhan belejar murid sebelum menentukan penugasan produk.  Pada dasarnya diferensiasi produk memberikan dua hal yaitu memberikan tantangan dan keragaman atau variasi dan memberikan murid pilihan bagaimana murid mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

 

Lingkungan juga dapat mendukung terlaksananya pembelajaran yang berdiferensiasi. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai guru untuk menciptakan lingkungan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun di atas learning community. Learning community adalah komunitas yang semua anggotanya adalah pemelajar.  Komunitas belajar yang dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.        Memiliki iklim dimana setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik

2.       Setiap orang di dalam kelas tersebut saling menghargai

3.      Murid akan merasa aman

4.      Ada harapan bagi pertumbuhan

5.      Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan

6.     Ada keadilan dalam bentuk yang nyata

7.     Guru dan murid berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama. Guru mempunyai peran yang sangat penting untuk membentuk suasana kelas yang positif.

 

Pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus merancang berbagai rencana pembelajaran yang akan diterapkan dalam satu kelas, akan tetapi guru memberikan perlakuan-perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Sebagai contoh dari proses pembelajaran berdiferensiasi adalah melakukan proses pembelajaran sesuai dengan kesiapan belajar siswa, menggunakan media pembelajaran yang dapat memfasilitasi gaya belajar siswa yang beragam, membuat produk sesuai dengan minat siswa, dan memberikan pilihan kepada siswa untuk mendemonstrasikan pemahamannya dalam bentuk produk yang mereka minati. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu memenuhi kebutuhan belajar murid dan mencapai hasil belajar yang optimal.

Jika mengaitkan pembelajaran berdiferensiasi dengan pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran, pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan bentuk upaya untuk melaksanakan pendidikan yang berpihak kepada murid yang berusaha untuk melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kodrat anak dan menegaskan peran pendidik sebagai penuntun, pembimbing, dan fasilitator murid dalam proses pembelajaran guna tercapainya tujuan pendidikan sebagai penuntun anak dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.


Aksi Nyata 1.1. Pemikiran Filosofis Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan dan Pengajaran

 

Penerapan Model pembelajaran Flipped Classroom dan Scrabble Game dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris

 

A.      Latar Belakang

Pelaksaan kegiatan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 ini mengharuskan kita beradaptasi dengan kebiasaan baru termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran daring sangat dianjurkan demi menekan penyebaran COVID-19. Akan tetapi, pembelajaran daring penuh belum dapat dilaksanakan di sekolah kami mengingat beberapa kendala seperti  tidak semua peserta didik memiliki fasilitas gawai dan internet yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran daring dan kurangnya motivasi anak dalam belajar secara daring karena mereka tidak ada guru untuk bertanya ketika menemukan kesulitan ataupun teman untuk berdiskusi. Selain itu, permasalahan yang muncul yaitu peserta didik semakin kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran dan cenderung  mengabaikan tugas yang diberikan.

Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapai dan dicari solusinya oleh guru. Merujuk pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan adalah  untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dari pemikiran tersebut, dapat dimaknai bahwa pendidik hendaknya memikirkan karakteristik dan kondisi peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut, saya mencoba menerapkan pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam pembelajaran di kelas dengan menerapkan model pembelajaran Flipped Classroom dan Scrabble Game dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris. Adapun tujuan dari kegiatan aksi nyata ini diharapkan peserta didik lebih antusias mengikuti kegiatan pembelajaran, dapat meningkatkan hasil belajar, menjadi lebih bahagia dan  merdeka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, dan memiliki karakter positif diantaranya taat terhadap aturan, disiplin, mandiri, dan mampu bekerja sama.

 

B.            Deskripsi Aksi Nyata

Pada masa pandemi covid 19, sekolah kami melaksanakan sistem pembelajaran daring dan  luring.  Sistem belajar luring dilaksanakan karena sekolah kami tergolong sekolah dengan jumlah peserta didik sedikit dan mayoritas peserta didik tinggal di dekat sekolah. Hal ini tentu saja hasil kesepakatan antara pihak sekolah dengan orang tua peserta didik.  Pembelajaran daring dilakukan dari rumah, dimana peserta didik telah diberikan modul dan video penjelasan materi yang telah mereka salin di flashdisk.  Sedangkan kegiatan luring dilaksanakan di sekolah secara berkelompok dan bergilir  dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

Pelaksanaan pembelajaran sistem luring dan daring ini sesuai dengan model pembelajaran flipped classrrom. Model flipped classroom atau model pembelajaran terbalik adalah pendekatan pedagogis inovatif yang berfokus pada pengajaran yang berpusat pada peserta didik dengan membalik sistem pembelajaran kelas tradisonal yang selama ini dilakukan oleh pengajar (Bergmann and Sam, 2012). Pada model pembelajaran Flipped Classroom, peserta didik mempelajari materi di rumah secara mandiri dan mengerjakan tugas di sekolah. Selain itu, saya menggunakan scrabble game untuk belajar kosakata supaya kegiatan belajar lebih menyenangkan.

Dalam melaksanakan aksi nyata pada modul filosofis pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini, dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaa, dan tahap penutup atau evaluasi.

 

1.    Tahap Persiapan

a.    Membuat kesepakatan pembelajaran dengan peserta didik.

Kesepakatan yang telah dibuat adalah:

1)      Melaksanakan pembiasaan membaca Al-qur’an dan sholat dhuha sebelum belajar

2)      Guru memberikan materi berupa modul dan video penjelasan

3)      Pemberian materi melalui flashdisk dan OTG. Bagi yang tidak memiliki handphone diberikan modul cetak.

4)      Disiplin dalam belajar dan mengerjakan tugas.

 

 

b.    Berkonsultasi dengan kepala sekolah dan rekan guru lainnya.

Hasil dari konsultasi adalah:

1)      Kepala sekolah mendukung dan memberikan masukan untuk pelaksanaan tugas tindakan nyata.

2)      Rekan guru mendukung dan ikut membantu.

c.    Membagikan informasi mengenai pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan rekan guru lainnya untuk menyamakan persepsi tentang pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan sosialisasi materi filosofis Ki Hadjar Dewantara yang dilakukan dengan menggunakan media Zoom Meeting.

d.   Mengidentifikasi karakter dan latar belakang peserta didik.

Identifikasi karakter dan latar belakang peserta didik dilakukan dengan observasi dan tanya jawab dengan peserta didik terkait kebiasaan mereka ketika belajar, kemudahan dan kesulitan yang mereka hadapi, peran orang tua, kondisi di rumah, cara belajar yang disukai, dan sebagainya.

e.    Merancang kegiatan pembelajaran

Membuat rencana pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran flipped classroom dan scrabble game.

 

2.    Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran flipped classroom adalah sebagai berikut:

a.       Tahap 1

Peserta didik mempelajari materi sendiri di rumah. Mereka membaca modul dan menonton video penjelasan materi yang dibuat oleh guru yang sudah disalin ke flashdisk. Kemudian, mencatat hal-hal penting dan yang tidak dimengerti dari modul atau vide.

b.      Tahap 2

Peserta didik datang ke kelas untuk mengerjakan kegiatan dan mengerjakan tugas di sekolah. Di sekolah, guru terlebih dahulu guru membuka kegiatan pembelajaran, memberikan motivasi, dan memberikan penguatan terhadap materi.

c.       Tahap 3

Menerapkan kemampuan peserta didik dalam proyek dan simulasi di dalam kelas. Pada materi teks berbentuk label, peserta didik melakukan presentasi mengungkapkan informasi yang terdapat pada label produk yang mereka miliki secara berkelompok.

d.      Tahap 4

Mengukur pemahaman peserta didik yang dilakukan di kelas pada akhir materi pembelajaran. Peserta didik mengerjakan soal evaluasi terkait materi secara individu.

Sedangkan, permainan scrabble game untuk belajar kosakata dilaksanakan dengan cara membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok. Kemudian, setiap kelompok diberi beberapa huruf dan mereka harus menemukan kosakata yang berhubungan dengan materi dari huruf-huruf yang diberikan. Huruf-huruf tersebut disusun membentuk kata dalam kertas yang sudah disediakan.

 

3.    Tahap Evaluasi

a.    Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Pertama mengevaluasi kegiatan sosialisasi kepada guru dengan memberikan angket setelah pelaksanaan sosialisasi melalui google frormulir. Kedua, mengevaluasi kegiatan belajar terhadap peserta didik dengan bertanya langsung kepada mereka dan melakukan refleksi bersama-sama.

b.    Memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar peserta didik baik dalam proses dan hasil belajarnya.

 

C.      Hasil dari Aksi Nyata yang Dilakukan

Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran flipped classroom dan scrabble game membuat peserta didik lebih antusias dalam belajar. Mereka tidak lagi kebingungan karena mereka mempelajari materi terlebih dahulu di rumah dan mengerjakan tugas di sekolah, sehingga mereka dapat bertanya kepada guru atau berdiskusi dengan peserta didik yang lainnya dalam mengerjakan proyek atau tugas.

Kemudian, peserta didik sangat antusias dan senang ketika belajar kosakata dalam Bahasa Inggris dengan menggunakan scrabble game. Mereka tertantang untuk mencari kata dari huruf-huruf acak bersama rekan-rekannya. Hal ini tentu saja membuat kegiatan pembelajaranmenjadi lebih menyenangkan. Hasil belajar peserta didik pun lebih meningkat jika dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya.

Selain melaksanakan aksi nyata terhadap peserta didik, saya juga melakukan sosialisasi tentang pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara kepada rekan guru. Dari sosialisasi tersebut, rekan-rekan guru berpendapat bahwa materi tentang filosofis Ki Hadjar Dewantara sangat bermanfaat dan mengingatkan dan memotivasi kembali mereka untuk menjalankan tugas utama guru sebagai penuntun dalam tumbuh kembang peserta didik. Mereka juga berpendapat setelah mengikuti sosialisasi menjadi lebih memahami cara menghadapi peserta didik dengan berbagai karakter dan kemampuan yang mereka miliki sehingga guru tidak harus memaksakan pembelajaran sesuai dengan apa yang guru inginkan namun sebaliknya guru harus mampu meningkatkan kemampuan yang dimiliki peserta didik pada proses pembelajaran.

 

D.      Pembelajaran yang Didapat dari Pelaksanaan

Belajar merupakan proses mencari kebenaran dari kesalahan, menemukan keberhasilan dari kegagalan, dan mendapatkan peluang dari tantangan. Pembelajaran yang diperoleh dari melaksanakan kegiatan aksi nyata terkait modul 1.1 yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Flipped Classroom dan scrable game, yaitu:

1.        Dalam menerapkan filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini saya menjadi terdorong untuk menggali potensi saya lebih dalam lagi dalam mengajar dan menerapkan hal-hal positif baru dalam kegiatan pembelajaran yang lebih berpihak pada murid.

2.        Penerapan model pembelajaran flipped classroom relevan dengan sistem belajar daring dan luring yang sekolah kami laksanakan. Model pembelajaran ini membuat kegiatan belajar luring dan daring menjadi lebih terarah.

3.        Menggunakan scrabble game untuk belajar kosakata lebih menyenangkan bagi peserta didik dan dapat meningkatkan penguasaan kosakata dan kolaborasi mereka.

4.        Penerapan model pembelajaran flipped classroom ini belum dapat dilaksanakan dengan sempurna, khususnya untuk peserta didik yang belum memiliki kemandirian dalam belajar.

5.        Permainan scrabble game memerlukan waktu yang cukup banyak khususnya bagi peserta didik yang kemampuan kosakatanya masih rendah, sehingga perlu latihan lebih banyak lagi agar mereka lebih terbiasa.

 

E.            Rencana Perbaikan

Penerapan model pembelajaran flipped classroom ini menuntut peserta didik untuk lebih mandiri memahami materi pembelajaran. Akan tetapi belum semua peserta didik dapat melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, sebagai guru saya harus tetap konsisten membimbing dan memotivasi mereka untuk  belajar terlebih pada masa pandemi COVID-19 in. Adapun rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa depan adalah dengan menambah pemahaman tentang model pembelajaran flipped classroom supaya saya dapat menerapkannya lebih baik lagi dan meningkatkan kemampuan saya dalam mengenali karakteristik dan potensi peserta didik.

 

F.            Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan

Berikut ini beberapa dokumentasi proses maupun hasil pelaksanaan aksi nyata modul 1.1. tentang pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Pengajaran.


1.        Link Video Aksi Nyata

Aksi nyata penerepan Model pembelajaran Flipped Classroom dan Scrabble Game ini dapat dilihat pada link berikut ini:

https://youtu.be/dAUJEBH2lMA


2.        Foto-Foto Kegiatan

Foto-foto kegiatan terlampir pada halaman selanjutnya


Kamis, 12 September 2019

Review Konten Rumah Belajar



rumahbelajar.id merupakan portal yang disediakan oleh  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berisi berbagai materi belajar dari berbagai kategori dan sumber. Portal ini dapat dimanfaatkkan oleh guru untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan juga dapat digunakan oleh siswa sebagai bahan belajar alternatif, baik di dalam maupun di luar jam sekolah.
Rumah Belajar ditujukan untuk siswa, guru, dan masyarakat luas, siapapun yang mau belajar. Manfaat Rumah Belajar bagi siswa adalah sebagai sumber belajar virtual, pengembangan kreativitas dan data portopolio siswa. Bagi Guru sebagai sumber referensi dan pembinaan profesi guru.  
Rumah Belajar memiliki kelebihan, diantaranya:
1.      Menyediakan fasilitas belajar baik bagi siswa maupun bagi guru,
2.      Memiliki berbagai media pembelajaran (multimedia), teks, grafis, foto, video, audio, dan animasi,
3.       Menyediakan kumpulan soal yang lengkap baik untuk latihan maupun Try Out ujian,
4.   Guru dapat memodifikasi dan mereproduksi rancangan pembelajaran dan materi pembelajaran,
5.       Siswa dapat mengembangan jaringan komunikasi dan kreativitas.
Di blog ini saya akan mereview dua konten dari Rumah Belajar yang sudah saya pelajari. Konten pertama berjudul Mendidik Anak di Era Digital yang saya ambil dari kategori Literacy. Konten kedua merupakan video pembelajaran Bahasa Inggris tentang Animal yang saya ambil dari kategori Language. Kedua konten ini direview dengan memanfaatkan teknologi Speech to Text dan Text to Speech.
Review konten pertama yang berjudul Mendidik Anak di Era Digital dapat dilihat pada link di bawah ini. 
Link Review Konten 1:

 Konten pertama berbentuk pdf atau buku elektronik dengan jumlah halaman 44 halaman. Dalam buku ini dijelaskan dengan singkat dan padat mengenai pengertian era digital, perkembangan teknologi digital, manfaat dan risiko penguunaan teknologi digital, peran orang tua dalam mendidik anak di era digital, dan bagaimana mengarahkan perangkat dan media digital dengan tepat.
Menurut pendapat saya, kelebihan dari konten ini adalah bahasa yang digunakan mudah dipahami, informasi teks disertai dengan gambar, dalam satu halaman tidak terlalu banyak teks sehingga pembaca tidak mudah bosan, dan informasi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan saat ini dimana banyak anak kecanduan perangkat digital. Buku ini sangat bermanfaat bagi orang tua dan guru.
Sedangkan, review konten kedua yang berjudul Animal dapat dilihat pada link berikut. 
Link Review Konten 2:
http://bit.ly/ReviewKonten_RB2


Konten kedua merupakan video pembelajaran Bahasa Inggris dengan judul Animals. Kelebihan dari video ini adalah gambar dan suaranya jelas dan materi dibawakan oleh penutur asli Bahasa Inggris sehingga pengucapan kosakatanya benar dan tepat. Kemudian, selain menyebutkan kosakata dari binatang-binatang tersebut, dideskripsikan pula ciri khusus dari binatang tersebut dan ada versi dengan menggunakan Bahasa Indonesianya. Adapun kekurangannya adalah dalam video ini tidak dicantumkan atau dituliskan terjemahan  kosakata dalam Bahasa Indonesianya. Selebihnya, video ini sangat bagus dan bermanfaat khususnya bagi anak-anak yang ingin belajar Bahasa Inggris secara mandiri.
Saat ini, kita dapat mengakses berbagai materi belajar dengan sangat mudah. Akan tetapi, kita hendaknya bijak dalam mengambil sumber bahan belajar supaya  bahan belajar yang kita ambil dapat dipertanggung jawabkan. Tentu saja, portal Rumah Belajar merupakan Open Educational Resources yang terpercaya dimana kita bisa mengakses bahan belajar yang kita butuhkan. 
Terimakasih. Semoga Bermanfaat.